Kegiatan bongkar muat barang melalui pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo, Jawa Timur pada tahun 2021 (hingga Juli) mencapai 1.043.921.388 ton. Sedangkan kunjungan kapal dalam kurun waktu tersebut ada 1949 unit, dan 5.395.496 GT.
Capt. Subuh, kepala KSOP kelas IV Probolinggo menyatakan bahwa aktivitas di pelabuhan Probolinggo mulai membaik, meski masih dalam pandemi covid-19.
“Hingga bulan Juli tahun 2021, kami sudah berhasil menghandle bongkar muat barang satu juta ton lebih. Untuk barang yang dibongkar sudah lebih dari 10 juta ton, sedangka barang dimuat hingga Juli sudah mencapai 137.566.81 ton. Kami yakin arus barang melalui pelabuhan Probolinggo akan terus meningkat,” katanya kepada Ocean Week, di Probolinggo, Jumat siang.

Menurut dia, komoditi yang dibongkar dari Januari hingga Juli 2021, terbanyak adalah batubara mencapai 628.786.24 ton, menyusul Logs yakni 67.778.50 ton, kemudian komoditi Jagung sebanyak 52.320.68 ton, methanol ada 9.700.79 ton, dan garam W. Pasuruan sebanyak 6.290,00 ton, serta masih banyak komoditi lainnya.
Sementara untuk barang yang dimuat terbesar adalah batu kapur mencapai 24.197,67 ton, menyusul clinker sebanyak 20.327,69 ton, general cargo ada 1.508,44 ton, dan masih banyak barang lainnya.
“Untuk kapal yang masuk, kapal asing tercatat 17 unit, 194.261 GT, kapal nasional ada 1.398 unit, 4.680.492 GT (Wilker Paiton), serta kapal PELRA ada 162 unit,” ungkap Subuh.
Dia juga mengemukakan bahwa ada sejumlah masalah yang sampai sekarang dinilainya cukup mengganggu kinerjanya, yaitu soal TKBM (tenaga kerja bongkar muat) pelabuhan di Probolinggo ini.
“Ada sejumlah pihak yang ingin supaya TKBM tak hanya ditangani oleh satu koperasi saja, tapi boleh juga didirikan koperasi lain untuk mengelola TKBM juga,” keluhnya.
Selain problem yang dirasa masih mengganjal, Subuh pun menceritakan keberhasilannya yakni pendapatan PNBP yang sudah melampaui target yang ditetapkan. “Sampai saat ini sudah masuk dari PNBP sekitar 18 miliaran. BUP Delta (delta Artha bahari Nusantara/DABN-red) menyumbang cukup besar dari PNBP,” ujarnya lagi.

Dia berharap tahun ini capaian pendapatan PNBP akan bisa lebih besar dari saat ini.
Kontainer
Sementara itu, Agus Edi Sumanto (Dirut BUP DABN) mengatakan mengenai bagaimana pihaknya berencana untuk mengembangkan kegiatan kontainerisasi di pelabuhan yang dikelolanya, yakni dermaga DABN.
Menurut Agus, selama ini kapal-kapal besar sudah masuk ke pelabuhannya, membawa barang curah. “Sudah rutin, ada sejumlah kapal asing masuk kesini selain kapal kegiatan domestik,” ujarnya.
BUP DABN yang mengelola pelabuhan dengan lahan seluas 60 Ha ini ingin mengoptimalkan lahannya yang masih banyak belum dimanfaatkan.
Pada Jumat (20/8) lalu, Ocean Week berkesempatan diajak oleh Dirut DABN Agus Edi Sumanto untuk melihat fasilitas pelabuhan yang dikelolanya.
Udara pagi itu cukup segar, tepat pukul 10.15 wib, kami keluar dari kantor DABN menuju ke Darmaga sepanjang 400 meter yang dikelolanya.
Saat itu sedang ada tiga kapal yang sedang bongkar muat. Ada yang bongkar batubara, dan ada pula yang muat semen, serta barang lainnya.
Tak jauh dari areal itu terlihat salah satu pulau Madura. Lalu lalang kapal kelothok pun hilir mudik mengangkut penumpang masyarakat yang tinggal di kepulauan Madura.
Agus Edi bercerita bahwa pelabuhan nya sudah bisa disandari kapal-kapal besar. “Dermaga sisi kanan bisa disandari kapal besar, karena draft kolam cukup dalam mencapai 16 meter, sedangkan dermaga sisi kiri hanya untuk kegiatan kapal-kapal domestik karena kedalaman nya hanya 9 meteran,” katanya.
Namun, ungkpa Agus, pihaknya sudah berencana untuk membangun dermaga agar bisa disandari kapal-kapal petikemas.
Ditanya mengenai akses jalan dari dan ke pelabuhan, Agus menjelaskan bahwa pihaknya sudah beberapa kali berkomunikasi dengan Walikota setempat, dan kabupaten Probolinggo mendiskusikan akses jalan tersebut.
“Jalan itu masuk jalan nasional, jadi anggarannya mesti pusat, tapi katanya direncanakan akan diusulkan dibangun jalan tol yang akan disambungkan ke tol yang sudah ada,” ujar Agus lagi.
DABN yang mengelola pelabuhan dengan luas areal sekitar 60 Ha, masih banyak lahan yang belum optimal.
“Kalau disini bisa menangani petikemas, maka industri disekitar Porbolinggo, Trenggalek, dan lainnya tak perlu lewat Tanjung Perak. Melalui pelabuhan ini bisa lebih efisien,” ucapnya.
Agus berharap apa yang menjadi rencana DABN dalam rangka pengembangan pelabuhan dapat terwujud.
“Memang rencana itu kemudian terhenti karena pandemi covid-19 ini. Investor yang waktu itu sudah datang dan membicarakan berbagai rencana, akhirnya terhenti, makanya DABN mengundang investor untuk mengembangkan pelabuhan ini,” keluhnya.
Banu Amza, owner pelayaran Berlian Pulau Mandangin Indonesia (BPI) menilai jika Probolinggo berpotensi menjadi pelabuhan besar, karena selain letaknya strategis, juga sudah banyak industri di sekitar daerah ini yang memback up sebagai hinterland pelabuhan. (**)
0 Komentar